Minggu, 11 Maret 2012

Ziarah Kebudayaan ke Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak (Foto: potlot-adventure)
Masjid Agung Demak, Minggu (26/2/2012). Salat zuhur tiba dan azan pun berkumandang, memanggil-manggil. Udara kota Demak panas. Lantai tegel di halaman masjid menyengat kaki yang tak bersendal. Tapi di tempat berwudu, udara sejuk, air wudu lebih meneguhkan kesejukan itu.

Tak begitu mudah dikatakan, tapi kurang lebih keteduhan itu terasa hingga ke dalam hati, disertai kelegaan bahwa apa yang direncanakan terlaksana. Saya melangkah di antara baris-baris, “saf”, para jamaah yang sudah siap seutuhnya mengabaikan dunia yang fana ini, yang “tidak penting”, untuk memusatkan seluruh jiwa raga menunaikan kewajiban salat zuhur tersebut.

Jamaah berjejal—mirip suasana Masjidil Haram—penuh dengan kaum muslimin dan muslimat, dari berbagai penjuru, untuk berziarah ke makam para wali, di tanah Jawa. Harus diakui, waliullah banyak jumlahnya, bukan hanya sembilan, tersebar di mana-mana, bukan hanya di Jawa. Di Jawa banyak wali tersembunyi, yang hampir tak pernah diketahui, kecuali oleh sesama para wali.

Mereka disembunyikan Allah, untuk suatu tujuan rohaniah tertentu. Sebagian menyembunyikan diri mereka sendiri dengan nyaman agar kesalehan mereka tak diketahui. Mereka hidup hanya karena Allah, dan semata untuk Allah. Jadi apa gunanya manusia lain mengetahuinya? Tugas setiap wali berbeda. Alasan kewalian mereka pun berbeda. Maka, hanya wali-wali yang kita kenal yang kita ziarahi. Yang tak kita kenal, biarlah Allah sendiri yang mengatur, siapa yang harus menziarahi mereka.

Dengan memohon rahmat dan berkah Gusti Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, ziarah kebudayaan dimulai. Sesudah salat zuhur itu saya melangkah di belakang Mas Imam, di depan Mas Rudy, di samping Mas Boni. Mas Rudy dan Mas Boni orang Katolik yang saleh, dan bergabung dalam kelompok empat orang ini. Mas Rudy mendorong sejak gagasan saya untuk melaksanakan ziarah ini.

Pendeknya dia ikut terlibat sejak awal perencanaan. Bismillah, ziarah dimulai. Para peziarah lain, yang berbondong-bondong itu, motivasinya berbeda. Ada motif ekonomi, ada motif rohaniah, ada juga motif sejarah. Saya membawa motivasi kebudayaan. Maka, saya menyebutnya ziarah kebudayaan. Di belakang Masjid Demak tadi, terdapat makam Raden Patah, Sultan Demak pertama, makam Sultan Trenggono, pengganti Raden Patah, dan makam Pangeran Sabrang Lor.

Tapi jelas bukan hanya itu. Di bagian lain ada makam Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolang. Juga makam Syech Maulana Magribi, yang terkesan khas, dengan gapura, simbol senjata besi kuning dan pahatan namanya di batu nisan. Ada yang mengatakan, makam Syech Siti Jenar terletak di dalam Masjid Agung Demak tersebut, tanpa tulisan, tanpa tanda, di bawah mihrab masjid.

Saya termangu-mangu memandang mihrab masjid itu dari luar, di bagian belakang, yang tak memberi isyarat apapun. Dari sana yang tampak hanya suasana hampa. Untuk roh-roh mereka semua, saya membacakan Al- Fatihah. Sambil menundukkan hati, mengingat sang Maha Pencita, yang pada suatu masa, niscaya akan memanggil semua peziarah itu.

Sejenak timbul kegelisahan dalam hati saya, apakah kuburan saya akan diziarahi. Saya tak tahu jawabnya. Maka kegelisahan menjengkelkan ini tak saya biarkan merajalela. Segera saya melupakannya, dan tiba-tiba mobil yang dikendalikan Mas Imam sudah tiba di Kadilangu, di makam Kanjeng Sunan Kalijaga.

Inilah makam seorang budayawan besar, yang memiliki strategi dakwah istimewa, yang berhasil “merebut” hati orang Jawa. Ziarah kebudayaan, bukan ziarah spiritual, bukan ziarah lain-lain, menemukan relevansinya. Di pusara orang suci ini saya mendoakannya agak lebih lama.

Makin lama saya ragu, apakah saya berdoa atau mengenang perjuangan kebudayaan beliau. Masa itu sudah lama lewat. Beliau berjuang di abad lima belasan, menjelang abad enam belas. Sikap terbuka, toleran, serta dengan tenteram dan damai menerima perbedaan sebagai kekayaan budaya, beliau menata hidup.

Rumusannya: hidup ini kerelaan yang tulus, untuk berbagi ruang budaya dengan orang lain, dan kelompok-kelompok lain, yang juga berhak atas ruang “sempit” yang harus dihuni bersama tanpa memilah bahwa ada yang disebut itu. Semangat berbagi dalam hidup, yang kini dibingkai menjadi renungan teoretik mengenai multikulturalisme, yang menjunjung tinggi kenyataan kebudayaan untuk diterima dengan damai—tanpa memilah posisi minoritas-mayhan hidup juga beruboritas—sebagai kenyataan politik yang ramah.

Inilah tradisi kehidupan yang kita warisi dari generasi yang sudah lama lewat, yang kita butuhkan, tapi kita lupakan. Buat sebagian orang mungkin bahkan dianggap tak ada lagi gunanya. “Tak ada gunanya?” “Ya, karena tak relevan lagi.” Dalam zaman yang berubah, kebutuhan manusia memang berubah,tapi kebutuhan untuk hidup tenteram, rukun, dan damai di antara sesama warga negara mungkin abadi.

Kebutuhan itu tetap relevan sampai hari ini.Jadi apa alasannya orang mengatakan tak relevan? Kaum minoritas yang sering ketakutan, mudah terancam dan mungkin karena memang ada saja yang mengancam, jelas butuh rasa damai dan ketenteraman. Kaum mayoritas butuh ketenteraman dan rasa damai, setidaknya ketika merasa gelisah, jangan-jangan kaum minoritas berkembang pesat dan kedudukan berganti: kini yang dulu minoritas berubah menjadi mayoritas.

Kegelisahan “jubah”setiap manusia, tak peduli adakah ia golongan minoritas atau mayoritas. Maka untuk kedamaian bersama, orang atau kelompok tak boleh dilihat dari segi minoritas atau mayoritas. Orang wajib dilihat secara adil sejak pemetaan politik paling primordial: kita samasama warga negara, kita sama-sama orang Indonesia. Kita sama-sama dilahirkan di Bumi Pertiwi ini. Kedudukan kita sama. Kewajiban kita sama.

Minoritas-mayoritas enak dipandang selama keduanya tak dimanipulasi demi suatu kepentingan politik yang tak adil. Tradisi yang diwariskan Kanjeng Sunan Kalijaga, yang jenazahnya dimakamkan di depanku ini, tak mewariskan kepicikan cara pandang khas hari ini. Maka saya pun belajar menghidupkan kembali tradisi luhur yang adil itu. Kanjeng Sunan, selamat beristirahat di sini.

Saya akan meneruskan perjalanan ziarah kebudayaan ini ke tempat-tempat lain. Terima kasih, Kanjeng Sunan mewarisi kearifan hidup untuk menata keindonesiaan hari ini, dan hari-hari esok, yang saya tak tahu, sampai kapan.

Tips Tetap Segar Saat Turun dari Pesawat


(Foto: CNBC)

Pernahkah Anda turun dari pesawat dengan wajah lesu dan badan yang capek? Ini wajar terjadi, karena udara dalam kabin dan rasa lelah saat penerbangan membuat Anda terlihat kurang segar.

Untuk mengatasinya, ulasan dari Farecompare berikut bisa Anda simak:

Cegah Dehidrasi

Sebelum naik pesawat, minumlah sebotol air mineral besar agar mencegah Anda dari dehidrasi. Udara dalam kabin pesawat cenderung membuat tubuh dehidrasi, sehingga minum lebih banyak dapat menjaga kadar air dalam tubuh tetap tinggi. Langkah ini juga dapat menjaga tubuh Anda tetap sehat selama penerbangan.

Gunakan lipbalm

Ini adalah cara lain mencegah dehidrasi. Jika bibir Anda kering, meminum air banyak biasanya tidak terlalu membantu. Menggunakan lipbalm di bibir dapat melembapkan bibir, dan mengurangi kekeringannya.

Makan yang bergizi

Jenis makanan saat penerbangan umumnya makanan instan yang tidak sehat, karena itu selalu siapkan atau bawa makanan Anda sendiri, seperti buah atau nasi dan roti buatan sendiri yang terjamin kesehatannya.

Sikat gigi

Sesaat sebelum turun, sikatlah gigi Anda agar selalu tampak segar setelah turun dari pesawat. Bila tidak ada sikat gigi, bisa juga mengunyah permen pedas atau permen karet rasa mint.

Masker atau penutup mata

Apabila penerbangan Anda memakan waktu lebih dari dua jam, maka sebaiknya bawa masker atau penutup mata. Tujuannya, agar Anda dapat bersantai dan menutup mata dengan tenang saat beristirahat selama perjalanan. Niscaya Anda akan tetap segar saat turun dari pesawat.